Derita Tiada Akhir (Tradisi Listrik Padam)

•March 5, 2008 • 1 Comment
MANNA – Sedikitnya selama 7 jam aktivitas masyarakat di Bumi Sekundang, Minggu kemarin, lumpuh total. Terutama mereka yang bergantung pada listrik. Pasalnya, PT PLN (Persero) Ranting Manna tengah melakukan perbaikan jaringan, sekaligus mengganti tiang listrik yang patah.
Manager PT PLN (Persero) Ranting Manna Barhimin, AhT, mengharapkan pada seluruh pelanggan bisa memakluminya. Mengingat, pemadaman berlangsung cukup lama dan menyeluruh. ‘’Pemadaman terjadi secara menyeluruh. Tak hanya kediaman warga tapi juga termasuk rumah dinas bupati, ketua DPRD, Wabup dan unsur muspida lainnya, ujar Barhimin. Tercatat, pemadaman berlangsung sekitar pukul 10.30 WIB.Pemadaman dikarenakan PLN tengah melakukan perbaikan. Diantaranya perbaikan jaringan di sekitar Simpang Rukis. Sehingga menyebabkan pemutusan arus dalam waktu cukup lama. Tidak itu saja, dari pemeriksaan dan laporan warga, PT PLN Ranting Manna juga melakukan pergantian tiang jaringan tegangan menengah 20 Kv yang terletak di halaman Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga. Pasalnya, tiang dari besi tersebut patah akibat dimakan usia (korosif-red).

Untuk memulihkan arus agar kembali normal, PLN Ranting Manna mengerahkan 10 personilnya termasuk Supervisor Operasional Distribusi Karnadi. ‘’Perlu waktu cukup lama untuk mengganti tiang sekaligus memperbaiki jaringan, mengingat pekerjaannya dilakukan secara manual,’’ ujar Karnadi.

Selain mengganti tiang listrik, petugas juga memperbaiki braket atau palang isolator tegangan menengah. Sekitar pukul 17.30 WIB, listrik kembali normal

Pemanfaatan Energi Alternatif yang Murah

•March 1, 2008 • Leave a Comment

Dengan semakin meningkatnya kebutuhan hidup dan peningkatan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) serta sekamin berkurangnya sumber daya alam yang tidak terbaharui, maka perlu dicarikan suatu jalan alternatif guna mengganti sumber daya energi tersebut dengan sumber daya energi yang terbarukan. Kebutuhan energi tersebut sebenarnya tidak lain adalah energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan dan mendistribusikan secara merata sarana-sarana pemenuhan kebutuhan pokok manusia. Berbagai macam bentuk energi telah digunakan manusia seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam yang merupakan bahan bakar yang tidak terbaharui. Selain itu, sumberdaya lainnya seperti kayu bakar saat ini masih digunakan, namun penggunaan kayu bakar tersebut mempunyai jumlah yang terbatas dengan semakin berkurangnya hutan sebagai sumber kayu. Dengan meningkatnya jumlah penduduk, terutama yang tinggal di perdesaan, kebutuhan energi rumah tangga masih menjadi persoalan yang harus dicarikan jalan keluarnya. Permasalahan kebutuhan energi perdesaan dapat diatasi dengan menggunakan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan, murah, dan mudah diperoleh dari lingkungan sekitar dan bersifat dapat diperbaharui. Salah satu energi ramah lingkungan adalah gas bio yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik akibat aktivitas bakteri anaerob pada lingkungan tanpa oksigen bebas. Energi gas bio didominasi gas metan (60% – 70%), karbondioksida (40% – 30%) dan beberapa gas lain dalam jumlah lebih kecil. Secara prinsip pembuatan gas bio sangat sederhana, yaitu memasukkan substrat (kotoran sapi) ke dalam unit pencerna (digester) yang anaerob. Dalam waktu tertentu gas bio akan terbentuk yang selanjutnya dapat digunakan sebagai sumber energi, misalnya untuk kompor gas

Demi Gaji Besar, Guru Palsukan Data

•March 1, 2008 • Leave a Comment

Bagaimana sampai ketahuan? Jose mengungkapkan, setiap guru yang bermaksud mengikuti uji sertifikasi profesi baik untuk guru TK hingga SMA sederajat, harus sepengetahuan kepala sekolah tempatnya mengajar atau yang masih menjabat. Nah, disinilah awal terungkapnya. Beberapa guru dengan berani memalsukan tanda tangan kepala sekolah.

Selain memalsukan tanda tangan, ada juga beberapa guru yang melakukan manipulasi data jumlah jam mengajar. Sedianya seorang guru memiliki jam mengajar sedikitnya 24 jam per minggu. Agar bisa disertakan dalam sertifikasi, guru tersebut mencantumkan diri bahwa telah memenuhi syarat dimaksud.

“Saat kita periksa berkasnya dengan teliti ternyata jumlah jam mengajarnya belum memenuhi syarat minimal,” ungkap Jose.
Untuk membuktikan kebenarannya, lanjut Jose, dinas melakukan pemeriksaan dengan mendatangi sekolah yang bersangkutan. Ternyata, kecurigaan dinas terbukti.

Ulah nakal para guru di Bumi Sekundang, ternyata tidak hanya sampai di situ. Mereka yang belum masuk dalam daftar layak sertifikasi ternyata sudah berani berbuat jauh. Yakni mengirimkan kelengkapan syarat untuk sertifikasi ke panitia di dinas. “Mungkin ini sekedar untung-untungan.

Kalau diproses dan berhasil mengelabui petugas maka itu yang diharapkan kalau tidak, anggap saja belum beruntung,” asumsi Jose. Dikatakan, mereka yang melakukan beragam tindakan tidak terpuji tersebut memiliki latar belakang pendidikan diploma hingga sarjana yang mengajar di berbagai tingkatan

Miliki KTP Ganda, Dipenjara Denda Rp 25 Juta

•February 21, 2008 • 2 Comments

Rabu, 22-Februari-2008,

MANNA – Ini perlu menjadi perhatian warga Bengkulu Selatan (BS). Bila ada oknum yang menawarkan membuat atau menggratiskan kartu tanda penduduk (KTP)– meskipun yang bersangkutan telah memilikinya–, harus ditolak. Pasalnya, jika tertangkap memiliki dua KTP, yang bersangkutan akan dikenakan pendara dua tahun kurungan. Kapala Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Bengkulu Selatan (BS) Sarwan Anwar, A.Md, menjelaskan ketentuan yang diberlakukan adalah setiap seorang warga negara di Indonesia hanya diperkenankan punya satu KTP. Ini diatur dalam pasal 63 ayat 6 UU No 23/2006 tentang administrasi kependudukan. ‘’Jika seseorang memiliki lebih dari satu KTP, akan bikin rancu atau mengacaukan administrasi kependudukan, terang Sarwan. Penegasan ini disampaikan Sarwan terkait sinyalemen adanya warga yang membuat KTP meskipun yang bersakutan sudah memilikinya. Sarwan mengungkapkan, blanko KTP yang sudah habis sejak Desember 2007, disebut-sebut menjadi salah satu pemicunya. ‘’Banyak cara yang dapat ditempuh. Misalnya mengaku kalau KTP-nya hilang atau baru mau membuat KTP,’’ papar Sarwan. Nah, tidak adanya blanko KTP membuka celah akan tercipta KTP ganda. Mula-mula, yang bersangkutan akan meminta surat keterangan pada kepala desa atau lurah kemudian dilegislasi oleh kecamatan dengan dikeluarkannya surat keterangan domisili yang pada saatnya nanti bisa dibuatkan KTP bila blankonya sudah tersedia. Sarwan menilai titik pengawasan yang paling krusial untuk mencegah KTP ganda itu adalah para Kades atau Lurah. Karenanya para Kades dan Lurah diimbau agar cermat mengeluarkan surat rekomendasi identitas. ‘’Jika terbukti punya KTP ganda, maka bisa dikenakan sanksi hukuman penjara selama 2 tahun atau denda maksimal Rp 25 juta,’’ ujarnya. Agar sanksi tersebut tidak mendera warga Bumi Sekundang, Sarwan mengingatkan agar pihak terkait berhati-hati dalam mengeluarkan surat.

Krisis Listrik Jadi Bom Waktu

•February 15, 2008 • 2 Comments
MANNA – Kekecewaan masyarakat terhadap pelayanan PT PLN (Persero) Ranting Manna yang sering pemadaman listrik dan rendahnya tegangan, memasuki titik nadir. Jika tidak segera disikapi pemerintah, persoalan tersebut akan menjadi bom waktu yang kapan saja bisa meledak.
Pernyataan ini disampaikan Ketua Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Bengkulu Selatan (BS) Ahmad Darwinto, S.Sos. Diungkapkan, pemerintah kabupaten maupun Provinsi Bengkulu harus mensikapi serius persoalan yang telah bertahun-tahun dikeluhkan masyarakat BS.‘’Sebenarnya ini adalah persoalan klasik. Bayangkan, persoalan hidup-mati aliran listrik sudah terjadi sejak selama 15 tahun lalu. Itu bukan waktu yang sebentar. Bahkan masyarakat sampai hafal jadwal pemadaman rutin. Yakni setiap pukul 23.00 WIB atau menjelang maghrib,’’ papar Ahmad Darwinto.Kondisi ini semakin memancing kekesalan warga, karena tingginya intensitas pemadaman tidak terjadwal. Misalnya, dalam sehari bisa hidup-mati listrik lebih dari lima kali. Bahkan dalam kisaran lima menit, hidup-mati listrik bisa mencapai lebih dari tiga kali. Demikian pula dengan tegangan listrik yang kurang dari 220 volt, sudah menyebabkan banyak peralatan elektronik milik warga rusak.Ahmad Darwinto menilai, niat baik untuk mengupayakan pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat, sebenarnya sudah direspon pihak swasta. Buktinya, Pemkab BS telah berupaya mendatangkan PT Manna Energi Pratama (MEP) yang telah menyatakan kesanggupannya untuk membangun pembangkit listrik di Desa Batu Balai Kecamatan Air Nipis. Tapi sayang, rekomendasi dari Pemprov sebagai jembatan untuk mewujudkan program tersebut, tidak kunjung direalisasikan.

‘’Terlepas dari persoalan administrasi atau apapun yang melingkupinya, langkah terbaik adalah sesegera mungkin mendirikan PLTMH Batu Balai. Tapi bagaimana mungkin kalau tidak disertai surat rekomendasi pinjam pakai kawasan hutan dari Gubernur Bengkulu,’’ tandas Ahmad Darwinto.

Dari kondisi terakhir, Ketua KAHMI BS menilai telah terjadi titik balik dari kekecewaan warga. Kesabaran yang selama ini terpelihara, sudah mulai menipis. Buktinya, 31 Januarai lalu puluhan warga Kelurahan Masat Kecamatan Pino mulai melakukan aksi demonstrasi damai. Terakhir, aksi massa warga Kedurang Minggu (10/2) malam kemarin. ‘’Lantas, apa lagi? Bukan tak mungkin akan ada aksi lebih besar lagi terkait hidup-mati listrik yang terjadi semaunya,’’ terangnya

Copyright@ HarianRakyatBEngkulu.com

Kelangkaan BBM Di Manna Menggila

•February 4, 2008 • Leave a Comment
Jumat, 12-Februari-2008, 09:15:53
MANNA- Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium di Manna, Bengkulu Selatan (BS) semakin menggila. Pada hari libur, Kamis (7/2) kemarin antrean panjang kendaraan di dua SPBU sudah melebihi 1 KM. Kondisi ini bukan saja dikeluhkan warga, tapi para pejabat. Karena kelangkaan BBM tersebut menghambat aktifitas dan kelancaran tranportasi.
Berdasarkan pantauan chatoel, antrean panjang terlihat di SPBU Kota Medan dan SPBU Tanjung Raman, Kecamatan Manna. Sejak pukul 06.00 WIB, ratusan kendaraan sudah antre duluan. Padahal pasokan bensin belum sampai ke SPBU. Pasokan BBM baru tiba di SPBU sekitar pukul 10.00 WIB. Itu berarti, sekitar 4 jam menunggu baru minyak sampai. antian ini bukan hanya terjadi pada bulan ini melainkan sudah dimulai dari bulan oktober 2007 tapi tidak ada tindakkan dari pemerintah setempat. ketidak perhatin pemerintah akan hal kebutuhan masyarakat ini menggambarkan ktidak becusan pemerintah dibawah kepemimpinan fauzan jamil (Bupati Manna, red).Sejumlah sopir kepada koran ini mendesak pemerintah dan Pertamina segera mengambil langkah-langkah solusi. Sebab, bila tidak kelangkaan BBM bisa memicu gejolak sosial.

“Kami masyarakat kecil ini tidak habis pikir. Kenapa masalah minyak di Bengkulu Selatan ini selalu bermasalah. Tolong pemerintah pikirkan kami masyarakat kecil ini,” ujar salah seorang warga yang antre di SPBU, Agussin (50).

Untuk mengantisipasi terjadi penimbunan oleh para spekulan, di setiap SPBU tampak diawasi oleh petugas dari kepolisian. Turunnya aparat ini disambut positif oleh warga yang antre, tetapi petugas yang diturunkan kelapangan hanya sebagai kedok petugas SPBU untuk mengelabui masyarakat awam akan kecuaranan SPBU untuk menjual lebih banyak kepada penimbun BBM

“Kalau dijaga polisi, paling tidak mereka yang mau nimbun itu pikir-pikir dulu. Kalau yang beli full tank berulang-ulang, itu patut dicurigai ingin melakukan penimbunan,” ujar warga yang antrean, Miftah. komentar salah satu warga yang tertipu oleh adanya petugas yang ada dilapangan. 

Meski panjang antrean sudah seperti ular, namun tidak sampai menimbulkan kericuhan. Warga dengan sabar antre meski harus rela berpanas-panasan di bawah terik matahari yang menyengat, hampir adakalah saling ada jotos.

Bila tidak ada tambahan pasokan, dikhawatirkan kelangkaan BBM di Bengkulu Selatan akan semakin menjadi-jadi. Imbas kelangkaan BBM, bukan hanya menimbulkan keresahan, tapi juga berimbas ke pasar. Harga-harga bahan kebutuhan pokok mulai naik. Hal seperti ini harus ditindak langsung oleh petugas Pertamina untuk menghukum pemilik SPBU dan petugas yang nakal, yang sengaja memanfaatkan situasi yang terjadi.

Eceran Rp 9.000

Sementara itu, sulitnya mendapatkan BBM di SPBU dimanfaatkan para pedagang bensin eceran. Pantauan koran ini, bensin eceran di sekitar SPBU dijual antara Rp 8.000 sampai Rp 9.000 per liter. Meski mahal, sejumlah warga terpaksa membeli bensin, terutama yang stok bensin di dalam kendaraannya sudah kerontang.

“Waduh, gawat kalau seperti ini terus. Saya beli bensin Rp 9.000 di eceran. Mau bagaimana lagi, kalau nggak beli, saya terpaksa dorong motor,” keluh Iwan, warga yang warga baru membeli bensin eceran di sekitar SPBU.

Gempa Mengarah ke Bengkulu

•February 2, 2008 • Leave a Comment
BENGKULU – Selepas magrib kemarin, tepatnya pukul 19:03 WIB Kota Bengkulu kembali diguncang gempa. Dari catatan BMG Kepahiang, gempa tersebut berkekuatan 5,3 SR. Pada saat bersamaan hanya berselang 1 detik, pukul 19:04 WIB gempa kuat juga mengguncang Nias dengan kekuatan. Gempa tersebut benar-benar mengguncang Pulau Sumatera.
Menurut teknisi BMG Kepahiang, Nofrayanto bila ditarik lurus pusat gempa ini mengarah ke Bengkulu. Sebelum gempa ini terjadi, pukul 02:23:33 WIB di 74 kilometer Barat Daya Mukomuko juga terjadi gempa 5,4 SR. Gempa ini terjadi pada koordinat 3,15 Lintang Selatan dan 100,77 Bujur Timur pada kedalaman 10 kilometer.‘’Gempa ini dirasakan di Kota Bengkulu, Kepahiang, Lais, Arga Makmur. Rata-rata dengan kekuatan getaran II – III MMI (magnitude mercally intencity). Dimana getaran ini sangat dirasakan oleh orang yang tengah berada di ketinggian atau gedung bertingkat. Bahkan pengendara kendaraan pun akan merasakan getaran ini, ditandai dengan gerakan benda-benda yang tergantung,’’ujarnya.

Pusat gempa kemarin merupakan pusat gempa baru. Tetapi masih berada di lempengan Indo Australia dan Eurosia yang masih bertabrakan. Kedalam gempa itu sendiri terjadi pada kedalaman 18 kilometer. Pusat gempa tersebut terjadi pada 3,94 Lintang Selatan dan 102.15 Bujur Timur atau 20 kilometer Barat Daya Bengkulu.

Sedangkan gempa di Nias terjadi di 41 kilometer Barat Daya Gunungsitoli Sumut dengan kekuatan 5,4 SR. Gempa pada kedalaman 25 kilometer ini terjadi pada lokasi 1.09 Lintang SElatan dan 97.28 Bujur Timur. Kedua gempa ini tidak menimbulkan bahaya tsunami. Tidak laporan korban jiwa akibat kedua gempa ini.

Dari catatan BMG Kepahiang, gempa yang tak dirasakan oleh manusia tapi tercatat di seismograph mencapai 7 kali. Kekuatan gempa ini, antara 2 – 4 SR. Gempa seperti ini akan terus terjadi di Bengkulu. Sebab Bengkulu berada di jalur gempa, dimana sewaktu-waktu bisa saja terjadi gempa.

Baik dengan kekuatan yang besar maupun kecil, tergantung pusat gempanya. Bila gempa seperti ini sering terjadi, diharapkan energi yang tersimpan di cecar mentawai akan berkurang. Sehingga peluang terjadinya gempa berskala besar akan kecil terjadi.

‘’Kalau bulan Januari jumlahnya hampir 200 kali getaran. Secara teori semakin sering terjadi gempa tentunya energi yang tersimpan di lempengan kerak bumi akan berkurang. Tetapi kadang memang peristiwa alam sulit untuk ditebak. Siklusnya bisa saja berubah. Yang terpenting, bagaimana masyarakat Bengkulu selalu waspada. Waspada ini bisa mengurangi kemungkinan banyak korban akibat gempa.

Intinya ketika terjadi gempa, bagaimana masyarakat segera menuju ke tempat yang lebih aman,’’ imbuh Nofran. (yoh)

Menari Di Ae’ MAnna

•February 2, 2008 • Leave a Comment

Menari di Air Manna
Menembus Jeram Perawan Lahat

Foto-foto Inge Renca Sianturi
Mirip – Bisa disimpulkan, karakteristik jeram Air Manna hampir mirip Sungai Asahan di Sumatera Utara. Arusnya cenderung agresif dan liar. Di musim hujan, bentukan sungainya bisa mencipta rangkaian standing waves panjang dan saling terhubung (atas).

Kembali ke alam, apa pun bentuknya, selalu menjadi momen paling menyenangkan. Alasan itu juga yang memacu saya untuk melawat ke Desa Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat – Sumatera Selatan ini. Selama dua hari, saya dan beberapa rafters (pengarung jeram) coba menjajal ketangguhan jeram-jeram Sungai Air Manna yang bercokol di kelebatan rimba.

Seperti wilayah pinggiran Sumatera lainnya, empat jam perjalanan Lahat – Tanjung Sakti itu penuh kelokan tajam. Sesekali, terlihat jurang menganga. Tapi di lain waktu, tampak kuning padi meliuk-liuk di antara nuansa hijau belantara raya dan hamparan perkebunan kopi yang lama-kelamaan semakin mendominasi pemandangan.
Setibanya di Tanjung Sakti, kami langsung bersua dengan Erwin Gumay, penggiat alam bebas dari Lahat. Kedatangan kami juga disambut senyum ramah penduduk setempat yang menyongsong di muka dusun. Bahkan, Drs. Lukman Panggarbesi, camat desa itu berada di antara mereka. Uniknya, ia sendiri pun rela bergabung dan siap memandu kami melakukan survei jeram siang hari itu juga.
Sebagai aktivitas pra-pengarungan, kegiatan pertama itu hanya berkutat pada penelusuran data-data sungai. Mulai dari pencarian entry point, menandai bentukan dan tingkat kesulitan jeramnya, hingga ke soal penentuan jalur bagi tim darat yang akan mengiringi selama pengarungan.
Tentu, bukan perkara enteng melakukan hal itu. Memburu entry point yang mudah kami jangkau dari tepi jalan setapak penduduk, misalnya. Terpaksa golok dan parang dikeluarkan demi menerabas kepungan hutan perawan nan lebat ini.
Herannya, sepanjang menyi-sir lembah penuh onak duri, tak tampak satu pun bekas tebangan liar. Yang pasti, sejauh pengamatan mata dan atas informasi penduduk setempat yang saya peroleh, hutan yang mengepung sungai ini masih sangat alami dan terjaga keasliannya. Dan tampaknya, baik penebang maupun para cukong kayu dari kota-kota besar masih ”silap mata” dengan kelestarian itu.
Terbukti, selama puluhan tahun, hujan lebat tak pernah menjadikan penduduk wilayah ini kerepotan dengan musibah banjir dan longsor. Bagi peminat arung jeram, tentu saja menguntungkan, sebab debit air sungai yang berhulu di Gunung Dempo (3.159 mdpl) ini tak pernah surut, kendati di musim kemarau seperti sekarang.

Hari Pertama
Sehari usai pendataan, ihwal kehebatan Air Manna total terbukti. Di hari pertama, kami membagi dua etape pengarungan. Etape pertama bermula dari dusun Sindang Panjang (desa Tanjung Sakti) hingga dusun Gunung Kerto. Etape selanjutnya berlangsung di antara jeram-jeram dusun Gunung Kerto dan berakhir di dusun Simpur. Total 19 kilometer yang akan ditempuh hari ini.
Bara semangat kepalang berkobar di dada, pantang untuk mundur. Apalagi, saya, Dompi, Jack, Erwin Gumay dan rekannya, Andi, sudah bersiap dalam posisi mendayung. Maka, selepas doa bersama, dayung pun dikayuh. ”Majuu…!” aba-aba Jack.
Belum jauh jarak perahu dari tepi sungai. Mendadak, kesialan menimpa. Saat perahu melabrak jeram pertama, benda karet itu berguncang hebat. Sialnya, pijakan kaki saya kurang mantap, alhasil, tubuh saya limbung seketika dan terlempar dari perahu.
Untunglah, di antara derasnya gelombang standing waves (jeram berbentuk ombak berdiri) tersebut, Andi masih bisa meraih tangan saya. Sigap. Tapi selanjutnya, malah gantian dia yang bernasib serupa. Kendati selamat, pemuda kelahiran Lahat ini sempat dua kali timbul tenggelam dipermainkan buih-buih jeram.
Sampai menjelang akhir etape satu, kami belum merasakan rintangan yang berarti. Kecuali satu buah jeram besar berbentuk penurunan (drop) setinggi satu meter. Sesuai aba-aba Jack, perahu masuk perlahan ke mulut jeram itu. Tepat, begitu mulut jeramnya habis, kayuhan semakin diperkuat untuk menghindari hisapan arusnya ke tebing. Perahu lolos.
Pengarungan terasa makin seru, saat memasuki dusun Gunung Kerto. Aliran Air Manna menyatu dengan Air Suka Merindu. Akibatnya debit air menjadi lebih tinggi. Ini terbukti dengan standing wave yang dari jauh terlihat biasa saja, ternyata malah sebaliknya. Besar dan menyeramkan, membuat bentuk perahu seolah mengecil.
Selepas jeram itu, perahu menepi untuk rihat. Puas menjerang rihat, pengarungan kembali berlanjut. ”Siapkan konsentrasi penuh, kita tak tahu ada apa di depan,” komando Jack, seraya mulai mendayung. Betul saja. Satu lidah riam menyambut, berbuih dan sangat menantang. Terbentuk dari dua buah jeram hydraulic (terbentuk karena aliran vertikal). Demi memperoleh siasat untuk melaluinya dengan gemilang, kami melakukan scouting (pengintaian jeram) di tepi sungai berbatu. ”Kita ambil jalur kanan. Usahakan jangan sampai ada yang jatuh,” tukas skipper (juru kemudi) kami itu, lantang.
Kiranya, inilah saat paling tepat membentrokkan nyali dan rasa takut yang porsinya sudah tak jauh berbeda. Maka, perlahan dayung dikayuh, seiring aba-aba Jack mengarahkan perahu masuk ke dalam amukan jeram itu. Dalam hitungan detik, saya sulit mengingat apa-apa lagi. Yang ada, hanya berkonsentrasi penuh mendengar arahan skipper, sambil mendayung cepat laksana kemasukan setan.
Mendebarkan, memang. Apalagi, saat saya mengetahui, perahu kami gagal menghindari jalur kanan yang pertama. Karena perahu miring 45 derajat, Dompi dan Andi terlempar ke luar. Nyaris, Jack pun ikut terlempar dan dilalap air. Tapi dengan kesigapan tinggi ia bisa menghindarinya.
Di tengah situasi kacau balau, Erwin yang duduk di sebelah saya terjerembab ke bagian dalam perahu. Tak ayal, posisi perahu menjadi kurang seimbang, bisa terbalik. Terpaksa, agar itu tidak terjadi, saya mengimbangi berat perahu dengan berpindah posisi ke bagian kanan.

Hari Kedua
Memasuki hari kedua, tingkat kesulitan sedikit berkurang. Kendati begitu, pengarungan di sepanjang rute Dusun Simpur hingga desa Pulau Timun itu tetap berjalan seru dan menegangkan.
Kebanyakan jeram di 10 kilometer rute tersebut hanya berkisar pada standing waves. Kami pun banyak berjumpa patahan sungai yang tingginya bisa melebihi satu setengah meter atau lebih. Hanya Jeram Lubuk Sibayang, sebuah jeram yang sempat membuat otak kami lama berputar untuk menentukan jadi atau tidaknya diarungi.
Bentuk Lubuk Sibayang berupa patahan setinggi 1,5 meter. Tepat di depannya, sebuah batu besar sudah siap menghadang laju perahu. Jika stag di situ, risikonya bisa terbalik, Maka, bersiaplah diempas rangkaian standing waves yang jaraknya pun tak berjauhan dengan patahan tersebut.
Nasib baik, lagi-lagi, masih berpihak pada tim perahu. Perlahan dan penuh kewaspadaan mereka menyongsong lidah jeramnya. Dan, begitu melewati patahan itu, mereka lantas mendayung kuat, sehingga benda karet itu tak sampai tertahan di batu.
Menjelang petang, tim tiba perahu di lokasi finish dusun Pulau Timun. Saya, Armen, dan Ican yang menjadi tim darat, tercengang menyaksikan kerumunan penduduk. Tampaknya, mereka tak sabar lagi ingin menyaksikan ”pemandangan” tak lazim di dusun mereka yang terpencil itu.
Malamnya, dalam suasana keluarga desa nan damai di pelukan rimba belantara, kami menghabiskan waktu. Bercengkerama ihwal ketegangan-ketegangan yang kami alami selama dua hari ini. (m. latief)